Awas Memutar Leher Penyebab Stroke

Mesothelioma Law Firm, Sell Annuity Payment Sunday, October 2nd, 2016 - Info Kesehatan

Untuk mengurangi rasa pegal di leher ataupun kepala terasa berat, adakalanya kita langsung memutar atau menarik leher ke kanan ataupun ke kiri dengan paksa. Bahkan tukang cukur pria memberikan tambahan servis pijat plus tekuk leher.  Menurut  dr Sutis Nasia SpS, tindakan tersebut sangat berbahaya. Salah satunya beresiko tinggi mengalami stroke sumbatan pembuluh darah. “Jika memang terbiasa melakukan hal tersebut, jangan diteruskan. Masih banyak cara atau gerakan yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa pegal di leher ataupun kepala terasa berat,” katanya.

memutar leher rawan stroke,memutar leher,stroke,penyakit stroke,obat stroke,atasi stroke,penanganan stroke,sumbatan pembuluh darah,pembuluh darah,artery dissection

Memutar ataupun menarik leher secara mendadak dapat mengakibatkan robekan lapisan dalam pembuluh darah arteri.  Terutama, pembuluh darah besar carotis dan vertebralis. Itu yang disebut artery dissection. Spesialis syaraf  Siloam Hospitals Surabaya tersebut memaparkan, jika robekan lapisan dalam pembuluh darah itu membesar, akan muncul kantong darah. Permasalahannya, kantong darah tersebut bisa membesar kedalam sehingga memperkecil diameter pembuluh darah. Dampaknya aliran darah terhambat dan terjadilah sroke sumbatan.

Namun kantong darah itu juga bisa membesar keluar atau yang dikenal sebagai aneurisma ( aneurysm ). Kelainan pembuluh darah tersebut bersifat seperti kantong tipis yang sewaktu-waktu bisa pecah, baik saat mengejan, berhubungan seksual, ataupun terkena trauma tumpul di leher. Akibatnya pasien mengalami stroke perdarahan. Kantong darah juga bisa terisi bekuan darah. Dan bekuan darah tersebut sewaktu-waktu bisa lepas. ” Sehingga menjadi stroke sumbatan besar dan sangat berbahaya di otak. Ini yang akan menjadi stroke tromboemboli,” paparnya.

Sutis mengatakan artery dissection memang bukan penyebab utama stroke. Kasus tersebut hanya menyumbang 2 – 5 persen dari semua kasus stroke. Nah, pada penderita stroke yang berusia muda, sekitar usia 35 – 50 tahun, masalah artery dissection turut menyumbang 25 persen. “ Cara mengetahui adanya artery dissection adalah dengan angiografi,” jelasnya. Dengan cara tersebut menurut Sutis bisa dinilai langsung pembuluh darah leher dan vertebralis melalui kateter. Zat kontras akan disemprotkan di pembuluh darah leher dan dilihat apakah terjadi pembelahan sisi dalam pembuluh darah leher.

Pengobatannya dilakukan terapi obat untuk mencegah agar tidak terjadi pembekuan di area robekan. Obat yang diberikan umumnya berupa antikoagulan yang disuntikkan. Kemudian dilanjutkan dengan antikoagulan peroral ( diminum ). Pemberian obat selama 3 – 6 bulan. Apabila setelah pemberian obat tidak ada perubahan bisa dipertimbangkan tindakan pasang ring seperti di jantung. ” Namun pada kondisi ini ring dipasang pada pembuluh darah leher yang menyempit,” kata Sutis.

Meski begitu prognosis  ( kemungkinan perkembangan penyakit ) artery dissection rata – rata baik. Sekitar 75 persen membaik dan hanya 5 persen yang tidak tertolong. ” Untuk pencegahan ya jangan menarik atau memutar leher,” tegasnya.

Demikian, semoga info ini bermanfaat.

Leave a Reply